Miris sekali melihat fenomena hidup. Seorang pria lajang nekat mengakhiri hidupnya sendiri dengan menggantungkan lehernya pada seutas tali yang menyangkut di pohon besar. Ironisnya perbuatan tak wajar ini dilakukan di tengah ramainya lalu lintas berlalu lalang. Tak dapat mencegah, masyarakat hanya menyaksikan penurunan jenajahnya.
Peristiwa ini hanya satu dari ribuan peristiwa bunuh diri lainnya. Tersebar cerita miris lainnya seputar peristiwa sama di dunia. Dimana seorang artis papan atas pun tak elak dari kematian yang tak lazim ini. Hingga sampai ke telinga, seorang ibu mengakhiri hidupnya karena persoalan ekonomi yang melilit kehidupannya. Belum lagi persoalan kasmaran menyeret insan manusia menuju tiang gantungan diri sendiri.
Bukan hanya gantung diri cara satu-satunya, mengkonsumsi obat-obatan dosis tinggi, memotong nadi, menembak kepala sendiri, berjalan di antara rel kereta saat kereta sedang melaju. Menembus tubuh dengan senjata tajam dan lain sebagainya.
Perlu kita perhatikan modus di balik peristiwa bunuh diri ini. Menurut Menko Kesra Agung Laksono prihatin atas tindakan bunuh diri yang marak di Jakarta. Menurutnya bunuh diri yang banyak terjadi akhir-akhir ini bukan semata karena tekanan ekonomi, tetapi karena depresi.
Dia menjelaskan, upaya-upaya pencegahan perlu dilakukan karena para ahli menyatakan, sebanyak 80-90 persen kasus tersebut sebenarnya dapat dicegah. Hanya 20 persen yang tidak dapat dicegah karena ada gangguan kejiwaan akut dan kuatnya keinginan bunuh diri.
Persoalan kecil bagi kita seperti putus cinta, mungkin besar bagi orang yang menghadapinya. Namun, dukungan dari kawan-kawan dan orang dekat memberi kekuatan bagi pelaku. Hal ini sulit dicegah manakala pelaku cenderung berkeinginan kuat menghabisi dirinya.
Jika di atas Agung Laksono mengatakan tindakan bunuh diri ini tidak didominasi tekanan ekonomi, maka depresi sebab tidak dapat menerima kenyataan hidup adalah alasan tepat mengapa orang memilih jalan ini. Sayang sungguh sayang, namun semua telah terjadi. Api yang disulut tidak dapat dipadamkan, nasi telah menjadi bubur, tidak dapat kembali seperti sediakala. Hanya tersisa kisah yang tinggal di benak menjadi pelajaran tidak perlu diulangi lagi bagi masyarakat.
Tidak seorangpun dapat menolong kita, maka berimanlah, maafkanlah-maafkan diri sendiri-, berinfak, shalat akan memberi ketenangan, berzikir, mulai sekarang cintailah orang lain, berhentilah marah, berakhlaklah. Dengan begitu, tidak melakukan apapun Tuhan akan membukakan pintu-pintu kebaikan bagi kita. Allah lah tempat berlindung, Allah lah tempat berkeluh kesah, Allah lah tempat kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar