Dari Abu Hurairah menceritakan bahwa ada seorang
laki-laki datang kepada Rasulullah untuk meminta nasihat beliau. Orang itu
berkata, "berilah wasiat (nasihat) kepadaku...". Rasul bersabda, "janganlah
engkau marah...!". Kemudian orang itu mengulang berkali-kali
permintaan nasihatnya kepada Nabi, maka Nabi pun mengulangi jawabannya, "janganlah engkau marah" (HR.
Bukhary: 5765)
Rasulullah memberi nasihat yang ringkas namun
mencakup semua sifat baik, yaitu nasihat agar selalu menahan kemarahan. Orang
yang bertanya kepada Nabi itu mengulang permintaannya berkali-kali dan Nabi
memberikan jawaban yang sama. Ini menunjukan bahwa melampiaskan kemarahan
adalah sumber segala keburukan dan menahannya merupakan penghimpun segala kebaikan
[1]
Imam Ja'far bin Muhammad mengatakan: "kemarahan adalah
pembuka segala keburukan"
imam Abdullah bin Al-Mubarak Al-Marwazy, ketika
ada yang meminta kepada beliau, "sampaikanlah (nasihat) kepada kami
yang menghimpun semua akhlak yang baik dalam satu kalimat". Beliau berkata, "tinggalkanlah amarah".
Demikian pula Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ishaq bin
Ruhuyah ketika menjelaskan makna akhlak yang baik, mereka mengatakan, "(yakni)
meninggalkan kemarahan" [2]
Jadi perintah Rasulullah dalam hadits di atas, "janganlah
engkau marah" berarti perintah melakukan sebab (perantara) yang akan
melahirkan akhlak yang baik, yaitu sifat yang lemah lembut, dermawan, malu,
tawaduk, sabar, tidak menyakiti orang lain, pemaaf, ramah dan sifat-sifat yang
baik lainnya berusaha menahan emosinya pada saat ada faktor-faktor yang
memancing kemaran. [3]
Menahan amarah dan sifat pemaaf merupakan
karakteristik ahlussunnah, pada dasarnya amarah ditiupkan oleh setan pada hati
manusia maka amarah tidak akan membawa apa-apa melainkan kerusakan.
Seorang tidak akan mampu menahan amarah tanpa
memiliki sifat pemaaf, sifat pemaaf merupakan keagungan pada setiap pribadi
manusia. Inilah nasihat yang agung dan luhur dari Rasulullah bagi ummatnya agar
menahan amarah jangan mudah marah karena marah sumber kerusakan, merusak akal,
jiwa, harta dan hati. Ini juga merupakan bentuk kasih sayang dari Rasulullah
kepada ummatnya agar tidak terjerumus kepada kerusakan maka beliau mencegah apa
yang dapat membawa pada kerusakan.
Tatkala diri dan hati tersakiti, difitnah dan dibenci janganlah
sekali-kali kita membawanya pada dendam, karena dendam hanyalah membuat kita
semakin terluka dan menambah rasa sakit. Akan tetapi dengan memaafkan akan
membuat kita mendapat kemulian dengan membawanya pada keikhlasan sehingga semua
luka akan sembuh total. Ikhlas adalah penawar hati yang terluka.
Dalam sebuah kesempatan Forum Cofee Morning yang
rutin dilangsungkan di Panca Budi, Muhammad Isa Indrawan SE, Rektor Universitas
Pembangunan Panca Budi melalui sebuah buku mengatakan, Apakah anda pernah
disakiti orang? Apakah anda sakit hati? Maafkanlah maka semua membawa anda
kepada kerendahan hati dan itu sangat bermanfaat bagi anda.
Dari
Aisyah ra, "Rasulullah tidak pernah marah karena diri pribadi beliau,
kecuali jika batasan syari'at Allai dilanggar, maka beliau marah dengan
pelanggaran tersebut karena Allah" (HR. Bukhary: 3367)
Beberapa dalil di atas dan sumber yang ada
membuka pikiran kita untuk senantiasa menghindari marah. Ketika luapan emosi
menenggelamkan kita, lakukan beberapa hal. Duduklah, jika masih marah
berbaringlah, jika belum reda amarah itu berwudulah, bisa pula diteruskan
dengan salat sunat dua rakaat.
[1]
keterangan imam Ibnu Rajab dalam kitab Jami'ul 'Ulumi wal Hikam, hlm.
144[2] semua ucapan di atas dinukil oleh Imam Ibnu Rajab dalam Jami'ul 'Ulumi wal Hikam, hlm. 145
[3] idem[4] Syarah dari Omar Ibrahim al-Imanulmuslim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar